Yogyakarta, infosmk.com
- Pemerintah terus mendorong transformasi pendidikan agar semakin adaptif
terhadap perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI)
sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Komitmen
tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen),
Abdul Mu’ti, saat menjadi pembicara kunci dalam Karangmalang Education Forum: AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan
untuk Semua yang digelar di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY), Sabtu (24/1).
Mendikdasmen Dorong Integrasi AI dan Etika Digital dalam Transformasi Pendidikan
Di hadapan sekitar 800 alumni UNY yang mengikuti
kegiatan secara luring dan daring, Menteri Mu’ti menegaskan bahwa AI kini telah
menjadi bagian dari peradaban manusia modern. Namun, penguasaannya harus
diimbangi dengan kompetensi dan etika digital.
“Kecerdasan artifisial kini telah menjadi
bagian dari peradaban manusia. Kita perlu memiliki digital competence, tetapi itu harus diiringi dengan digital civility atau keadaban digital.
Tanpa etika, pemanfaatan AI justru bisa menjadi sumber persoalan sosial baru,”
ujarnya.
Menurutnya, perkembangan AI telah memengaruhi
hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, riset, dunia kerja,
hingga cara manusia memperoleh dan mengolah pengetahuan. Sejumlah kajian global
menunjukkan bahwa meskipun AI berpotensi menggantikan beberapa jenis pekerjaan,
teknologi ini juga membuka peluang baru yang sangat luas.
“Yang terdampak adalah mereka yang tidak
menguasai teknologi. Tetapi mereka yang menguasai AI justru akan menjadi
semakin berdaya. Karena itu, pendidikan memiliki peran strategis untuk
memastikan generasi muda tidak tertinggal,” tegasnya.
Menteri Mu’ti juga menyoroti tantangan besar
terkait kebenaran dan validitas informasi di era AI. Menurutnya, teknologi ini
bekerja dengan menghimpun dan merangkum data yang diunggah manusia, sehingga
kualitas data sangat menentukan kualitas hasil yang dihasilkan.
“AI bisa sangat cerdas, tetapi ia tidak
memiliki hati dan kesadaran moral. Maka tanggung jawab manusialah untuk
memastikan bahwa apa yang diunggah, diproduksi, dan disebarkan melalui AI
adalah sesuatu yang benar dan baik,” katanya.
Ia menambahkan, maraknya manipulasi digital
seperti pemalsuan gambar, suara, dan narasi berpotensi merusak reputasi
seseorang dan memicu konflik sosial. Di tengah budaya scroll society yang cenderung serba cepat dan dangkal,
masyarakat semakin rentan mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
“Karena itu, etika, tata krama, dan literasi
digital harus menjadi bagian penting dari pendidikan kita,” imbuhnya.
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen telah mulai
mengintegrasikan AI dan koding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah,
dimulai dari kelas V sekolah dasar. Kebijakan tersebut diterapkan secara
bertahap menyesuaikan kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan.
“Kami mulai dari mata pelajaran pilihan karena
guru harus kita latih terlebih dahulu. Jika sudah siap, ke depan bisa
diperluas. Yang penting, anak-anak kita tidak hanya diajari teknologinya,
tetapi juga nilai dan etika dalam menggunakannya,” jelas Menteri Mu’ti.
Ia menegaskan bahwa pendidikan karakter tetap
menjadi fondasi utama, termasuk dalam pembelajaran berbasis AI. Nilai-nilai
tersebut diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.
“AI harus kita posisikan sebagai alat untuk
memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Pendidikan Indonesia harus tetap
relevan dengan dunia yang terus berubah, namun berpijak pada nilai, karakter,
dan keadaban,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Negeri
Yogyakarta, Sumaryanto, menegaskan bahwa UNY menempatkan peningkatan kualitas
sumber daya manusia sebagai fondasi utama dalam penguatan mutu pendidikan dan
penelitian. Dalam lima tahun terakhir, UNY secara konsisten mendorong dosen dan
tenaga kependidikan untuk melanjutkan studi, memperkuat riset, meningkatkan
publikasi, serta jabatan akademik.
“Kami bekerja di perguruan tinggi, maka
kualitas sumber daya manusianya harus terus ditingkatkan. Itulah sebabnya kami
mendorong dosen dan tenaga kependidikan untuk studi lanjut, memperkuat riset,
dan publikasi,” ujarnya.
Menurut Sumaryanto, langkah tersebut sejalan
dengan kebijakan Kemendikdasmen dalam membangun pendidikan yang adaptif
terhadap perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan AI. UNY, kata
dia, siap mendukung kebijakan tersebut melalui penguatan riset dan kualitas SDM.
“Dengan arahan Bapak Menteri dan jajaran Kemendikdasmen, kami bersyukur kualitas SDM UNY terus meningkat, baik jumlah doktor, profesor, maupun tenaga kependidikan yang sedang studi lanjut. Ini adalah bagian dari ikhtiar kami agar UNY mampu berkontribusi lebih besar dalam peningkatan mutu pendidikan dan penelitian di era yang terus berubah,” pungkasnya. (red)
Posting Komentar untuk "Mendikdasmen Dorong Integrasi AI dan Etika Digital dalam Transformasi Pendidikan"