
Program Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Penguatan Vokasi, Teaching Factory SMK Bertransformasi Jadi Pusat Produksi Nyata
Jember, infosmk.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
tidak hanya berperan dalam meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga
menjadi katalis penguatan pendidikan vokasi di Indonesia. Implementasi Satuan
Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbasis SMK menunjukkan bagaimana konsep
teaching factory (Tefa) bertransformasi menjadi pusat produksi riil yang
mendidik sekaligus memberdayakan masyarakat.
Salah satu praktik nyata terlihat di SMK Perikanan dan Kelautan Puger,
Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dapur SPPG di sekolah tersebut setiap hari
memproduksi sekitar 3.000 paket MBG yang didistribusikan kepada peserta didik
mulai jenjang PAUD hingga pendidikan menengah, serta balita, ibu hamil, dan ibu
menyusui di wilayah Puger Kulon.
Keunikan dapur ini terletak pada integrasinya dengan Teaching Factory Udang
Vaname dan Teaching Factory Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi). Para
siswa terlibat langsung dalam proses produksi bersama sekitar 50 pekerja dari
masyarakat sekitar, menciptakan ekosistem pembelajaran berbasis industri nyata. Menariknya, salah satu investor dapur merupakan alumni sekolah yang telah
sukses berkarier di Jepang, sementara pemasok bahan sayur mayur juga berasal
dari lulusan program keahlian setempat. Kolaborasi tersebut memperkuat rantai
ekonomi lokal sekaligus membuka peluang kewirausahaan bagi lulusan SMK.
Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kuntjoro Basuki, menegaskan bahwa
dapur SPPG berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan bagi siswa. “Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, dapur SPPG ini juga meningkatkan
kompetensi murid dan mengenalkan budaya kerja secara langsung karena mereka
bekerja bersama para ahli,” ujar Kuntjoro dalam keterangan tertulis, Jumat
(20/2/2026).
Melalui integrasi Tefa, siswa kelas XI dan XII menjalankan praktik mata pelajaran
produktif secara langsung, mulai dari pengolahan bahan baku hingga distribusi
makanan. Manfaat pembelajaran tersebut dirasakan langsung oleh siswa. Oktavian
Ardiansyah, siswa kelas XI, mengaku pengalaman menjadi pemasok produk ke dapur
MBG—seperti pentol, puding, udang kupas, hingga telur kupas—membuatnya memahami
analisis usaha secara nyata. “Kami belajar menghitung BEP dan HPP. Rasanya seperti memiliki usaha sendiri,
sehingga kami lebih siap masuk dunia kerja,” ungkapnya.
Pengalaman praktik tersebut bahkan mengantarkannya meraih juara Lomba
Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Kabupaten Jember. Model kolaborasi MBG ini membuktikan bahwa program pemerintah dapat menjadi
ekosistem pembelajaran kontekstual. Siswa tidak hanya memproduksi makanan,
tetapi juga menganalisis kebutuhan bahan, waktu pengolahan, hingga efisiensi
produksi secara profesional.
Dukungan serupa juga terlihat di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Teaching
factory Lembaga Kursus Abdi Bangsa Institute sejak Januari 2026 memproduksi
sekitar 9.000 roti setiap hari untuk memasok tiga dapur SPPG di wilayah
tersebut dengan melibatkan chef pastri profesional.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan
Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyambut baik praktik integrasi
MBG dengan pendidikan vokasi. Menurutnya, program ini berpotensi memperkuat
ekosistem vokasi nasional secara berkelanjutan.
“Bahan pangan dapat diproduksi oleh teaching factory SMK perikanan, peternakan,
pertanian, maupun tata boga. Bahkan pengembangan alat pendukung dapur SPPG juga
bisa diproduksi oleh siswa SMK,” ujarnya. Ia menegaskan, integrasi MBG dengan pendidikan vokasi akan memperkuat
konsep link and match antara sekolah dan kebutuhan riil
masyarakat serta dunia kerja.
Model SPPG berbasis SMK di Jember menunjukkan bahwa kebijakan publik mampu
memberikan dampak ganda: meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus
memperkuat kompetensi generasi muda. Program MBG tidak sekadar mendistribusikan
makanan, tetapi juga membangun budaya kerja, kewirausahaan, dan produktivitas
di satuan pendidikan vokasi.
Dengan pendekatan kolaboratif berbasis praktik nyata, MBG menjadi instrumen
strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul—sehat secara fisik,
terampil secara teknis, dan siap bersaing di dunia kerja. (red)

Jember, infosmk.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi katalis penguatan pendidikan vokasi di Indonesia. Implementasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbasis SMK menunjukkan bagaimana konsep teaching factory (Tefa) bertransformasi menjadi pusat produksi riil yang mendidik sekaligus memberdayakan masyarakat.
Salah satu praktik nyata terlihat di SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dapur SPPG di sekolah tersebut setiap hari memproduksi sekitar 3.000 paket MBG yang didistribusikan kepada peserta didik mulai jenjang PAUD hingga pendidikan menengah, serta balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah Puger Kulon.
Keunikan dapur ini terletak pada integrasinya dengan Teaching Factory Udang Vaname dan Teaching Factory Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi). Para siswa terlibat langsung dalam proses produksi bersama sekitar 50 pekerja dari masyarakat sekitar, menciptakan ekosistem pembelajaran berbasis industri nyata. Menariknya, salah satu investor dapur merupakan alumni sekolah yang telah sukses berkarier di Jepang, sementara pemasok bahan sayur mayur juga berasal dari lulusan program keahlian setempat. Kolaborasi tersebut memperkuat rantai ekonomi lokal sekaligus membuka peluang kewirausahaan bagi lulusan SMK.
Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kuntjoro Basuki, menegaskan bahwa dapur SPPG berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan bagi siswa. “Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, dapur SPPG ini juga meningkatkan kompetensi murid dan mengenalkan budaya kerja secara langsung karena mereka bekerja bersama para ahli,” ujar Kuntjoro dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).
Melalui integrasi Tefa, siswa kelas XI dan XII menjalankan praktik mata pelajaran produktif secara langsung, mulai dari pengolahan bahan baku hingga distribusi makanan. Manfaat pembelajaran tersebut dirasakan langsung oleh siswa. Oktavian Ardiansyah, siswa kelas XI, mengaku pengalaman menjadi pemasok produk ke dapur MBG—seperti pentol, puding, udang kupas, hingga telur kupas—membuatnya memahami analisis usaha secara nyata. “Kami belajar menghitung BEP dan HPP. Rasanya seperti memiliki usaha sendiri, sehingga kami lebih siap masuk dunia kerja,” ungkapnya.
Pengalaman praktik tersebut bahkan mengantarkannya meraih juara Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Kabupaten Jember. Model kolaborasi MBG ini membuktikan bahwa program pemerintah dapat menjadi ekosistem pembelajaran kontekstual. Siswa tidak hanya memproduksi makanan, tetapi juga menganalisis kebutuhan bahan, waktu pengolahan, hingga efisiensi produksi secara profesional.
Dukungan serupa juga terlihat di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Teaching factory Lembaga Kursus Abdi Bangsa Institute sejak Januari 2026 memproduksi sekitar 9.000 roti setiap hari untuk memasok tiga dapur SPPG di wilayah tersebut dengan melibatkan chef pastri profesional.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyambut baik praktik integrasi MBG dengan pendidikan vokasi. Menurutnya, program ini berpotensi memperkuat ekosistem vokasi nasional secara berkelanjutan.
“Bahan pangan dapat diproduksi oleh teaching factory SMK perikanan, peternakan, pertanian, maupun tata boga. Bahkan pengembangan alat pendukung dapur SPPG juga bisa diproduksi oleh siswa SMK,” ujarnya. Ia menegaskan, integrasi MBG dengan pendidikan vokasi akan memperkuat konsep link and match antara sekolah dan kebutuhan riil masyarakat serta dunia kerja.
Model SPPG berbasis SMK di Jember menunjukkan bahwa kebijakan publik mampu memberikan dampak ganda: meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat kompetensi generasi muda. Program MBG tidak sekadar mendistribusikan makanan, tetapi juga membangun budaya kerja, kewirausahaan, dan produktivitas di satuan pendidikan vokasi.
Dengan pendekatan kolaboratif berbasis praktik nyata, MBG menjadi instrumen strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul—sehat secara fisik, terampil secara teknis, dan siap bersaing di dunia kerja. (red)
Posting Komentar untuk "Program Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Penguatan Vokasi, Teaching Factory SMK Bertransformasi Jadi Pusat Produksi Nyata"